Purnama di mulut dewa

P1010062“Bang, ada tiket promo murah Air Asia nih ke Makassar,” ujar suara diseberang telpon yang tak lain adalah si Nhanha yang akrap dengan panggilan tante Nhanha di kalangan komunitas mailing list penggiat alam bebas.
“wah bisa ke Bawakaraeng nih” balas saya bersemangat,
“udah buruan pesan..” ujar saya lagi.
Dan begitulah, akhirnya Nhanha menelpon beberapa teman dan terkumpulah 5 orang teman yang akan ikut, saya menelpon seeorang teman di Makassar yang saya kenal lewat jejaring pertemanan di dunia maya, yaitu Lim. Cowok keturunan Jawa namun sangat Makassar ini, memberikan respon positif atas rencana saya dan teman-teman untuk mengunjungi Gunung Bawakaraeng. Rencanapun dibuat dan disusun, namun ditengah persiapan dua orang teman yang tadinya akan ikut batal, dan disaat hari keberangkatan dua orang rekan kami tersebut digantikan oleh dua orang lainnya, dan berangkatlah kami berlima, saya, Nhanha, Titi, Dwi dan Anno menuju tanah Daeng dengan pesawat sore.

Badan pesawat Air Asia dengan nomer penerbangan QZ7086 sedikit bergetar saat roda pesawat menyentuh landasan Bandara Sultan Hasanudin Makassar, dari jendela pesawat terlihat sosok bandara baru yang memiliki arsitektur moderen ini tampak mentereng sekali. Tidak berapa menit kemudian kami pun sudah sibuk dengan bagasi-bagasi di arrival hall, dan kemudian saat keluar dari terminal kedatangan. Saya berusaha mencari wajah Lim yang belum pernah ketemu sebelumnya, namun tidak susah mengenalinya, karena sama seperti fotonya di jejaring pertemanan, kami pun bersalaman dan suasana pun langsung cair dengan percakapan yang akrap. Lim sudah menyiapkan kendaraan untuk menjemput kami, dan sesuai rencana kami pun langsung menuju supermarket untuk membeli kebutuhan logistik yang telah disusun oleh Titi dan Nhanha. Tidak semua item yang kami butuhkan tersedia, terpaksa Nhanha mencoret beberapa item yang ada di listnya. Menurut rencana kami akan mendaki dengan jumlah 7 orang dari Jakarta 5 orang dan 2 orang dari Makassar (Lim dan Ego), Ego menjumpai kami saat kami tengah berbelanja kebutuhan logistik, cowok ini sama halnya dengan Lim aslinya Jawa namun lahir dan besar di Makassar, kedua orang teman kami ini merupakan penggiat alam bebas di Makasar yang dulu sewaktu masih kuliah tergabung dalam club pendaki gunung di kampus mereka, seperti umumnya para penggiat alam bebas yang ketemu, tidak susah bagi kami untuk segera membaur dan larut dalam obrolan disela-sela kesibukan kami memilih bahan makanan yang akan kami bawa nanti.

“Lim, selesai ini kita mesti makan malam nih,” ujar saya pada Lim karena perut sudah mulai teriak minta di isi,

“iya bang, kita makan coto saja ya..” sahut Lim dengan logat khas Makassarnya yang kental, dan selesai belanja kami segera menuju ke Wisma tempat kami menginap yaitu Wisma Benhil yang berlokasi di depan Universitas 45. Sesampai disana sudah menunggu Ego yang tadi duluan dengan motornya dan Susi istrinya berserta sikecil April putri mereka, ada satu lagi wanita cantik bernama Rahel yang merupakan istrinya Lim. Kami berkenalan dan setelah check-in dan menaruh barang dikamar, kamipun menuju sebuah kedai Coto Makassar yang letaknya tidak jauh dari Wisma kami.

“Oo makannya dengan ketupat ya” gumam saya, saat melihat ketupat kecil didalam sebuah mangkok didepan kami.

“iya Bang, tapi bisa pesan nasi kok” sahut Lim

Kami mulai sibuk dengan order masing-masing, menurut Lim, kedai Coto Makassar yang kami datangin ini enak sekali dan laris, tak jarang pengunjung antri untuk bisa mencicipinya. Tak lama hidangan yang ditunggu datang juga, Coto Makassar yang dihidangkan dalam mangkok kecil,

“dikit amat” gumam saya,

Santan Coto ini sangat kental sekali dan berisi potongan-potongan daging, aromanya segera membangkitkan keinginan untuk segera menyantapnya.

“Aku makan pake ketupat aja ah” ujar Nhanha yang duduk disebelah saya, kami makan sembari mengobrol, merencanakan perjalanan kami esok harinya. Namun obrolan itu tidak berlagsung lama, karena diluar para pengunjung lain sudah antri untuk menikmati hidangan Coto di warung Daeng ini.

Sekembalinya ke Wisma, Lim dan Edo berserta keluarga pamit untuk pulang dan esok akan datang menjemput kami untuk berangkat bersama menuju Gunung Bawakaraeng. Kami berlima mulai melakukan aktifitas packing ulang ransel kami masing-masing dengan tambahan bahan makanan dan logistik lainnya. Pendakian akan kami mulai dari dusun Makdako, rute pendakian lebih pendek dari dusun ini dibandingkan dengan dari Desa Lembana. Jika mendaki dari Makdako pos pertama yang akan kita jumpai adalah pos 5 dan hanya memakan waktu tempuh satu setengah jam. Jika dari Lembana kita harus melewati semua pos untuk sampai di pos 5. Jalur ini diusulkan Oleh Lim dan Ego pada saya, menurut mereka jauh lebih cepat, dan mengingat keterbatasan waktu yang kami punya, saya pun setuju dengan usulan mereka berdua.

Sudah larut malam, dan pantulan sinar purnama tampak membias di kanal yang mengalir di samping Wisma kami menginap, kamar sebelah yang diisi oleh Titi, Nhanha dan Dwi sudah sunyi, saya sudah selesai packing begitu juga dengan Anno. Letihnya perjalanan dan persiapan packing membuat mata serasa berat seolah digantungi batu, istirahat mutlah dibutuhkan agar fisik kami siap menghadapi medan Gunung Bawakaraeng esok hari.

Hari yang cerah, matahari Makassar mulai terasa menyengat padahal masih pagi, kami sibuk memuat ransel-ransel kedalam mobil, dan tidak lama kemudian kamipun sudah melaju menuju daerah Malino. Malino merupakan daerah wisata pegunungan bagi orang-orang di Makassar, namun dewasa ini semenjak banyaknya truk-truk pengangkut pasir yang lalu lalang di jalur Malino-Makassar mengakibatkan jalan penghubung menjadi rusak parah, ini membuat waktu tempuh kesana menjadi semakin terasa lama, sudah bisa ditebak kami sampai di Malino pada siang harinya, berhenti sebentar dan makan siang disana.

Dusun Makdako lebih keatas lagi dari pada Desa Lembana, sebuah dusun yang berada persis dibawah kaki Bawakaraeng.

“Jalur ini ketemu tidak sengaja bang, waktu itu kami kesasar dan ketemu jalur ini” cerita Ego sewaktu saya menanyakan perihal awalnya jalur dari Makdako ini.

“dan ternyata lebih cepat dari pada jalur Lembana yang harus melewati lima pos, kalo jalur Makdako ini kita langsung ke Pos 5 tanpa harus melewati pos satu sampai empat” lanjut Ego menerangkan.

“Wah emang bagus dong, bisa hemat waktu” timpal saya menanggapinya.

 

p1010059Di dusun Makdako kami mampir sejenak di rumahnya Tata Badu, yang merupakan kenalannya Ego, rumah sederhana yang terletak di tengah ladang ini akhirnya menjadi sesak dengan kedatangan kami, tapi sambutan tuan rumah sangat hangat sekali, sehangat kopi hasil tumbukan Tata Badu ya disajikan, meskipun saya tidak pecinta kopi tapi sedikit banyaknya bisa merasakan kenimatan kopit tersebut. Di sini kami kembali melangkapi kebutuhan logistik kami berupa sayur-sayuran. Selepas lohor kami harus meninggalkan keramah-tamahan Tata Badu karena perjalanan harus segera dilanjutkan menuju Pos 5 dimana kami akan melewati malam pertama di Bawakaraeng ini.

Matahari bersinar garang, langit biru cerah dengan gumpalan-gumpalan awan tipis menghiasinya. Kami memulai pendakian dengan menyusuri ladang dan setelah menyeberangi sungai kecil, jalan setapak mulai terasa menanjak tajam memasuki hutan. Seperapat jam berjalan, mulailah terdengar hela nafas kami saat melewati tanjakan demi tanjakan yang semakin curam. Hutan yang rindang sedikit banyaknya memberikan perlindungan pada kami dari sengatan matahari. Hutan yang kami lewati hening sekali, hanya suara canda dari Ego yang terdengar terkadang saya juga menyahutinya. Tak lama kemudian setelah satu jam lebih berjalan, akhirnya kami sampai di pertigaan pertemuan dengan jalur normal dari Lembana, dari sini sudah dekat untuk mencapai Pos 5, keadaan jalan setapak pun tidak begitu menanjak seperti jalur sebelumnya. Pos 5 kami raih saat matahari sudah mulai condong kebarat, aku melirik jam tanganku jarum jamnya sudah menunjukan jam tiga lewat lima, tapi ini masih jamnya Jakarta, Makassar yang berbeda lebih cepat satu jam dari Jakarta, jadi artinya sekarang sudah jam empat lewat. Setelah memilih tempat yang cukup aman, maka kamipun sibuk mendirika tenda, herannya di sepanjang jalan setapak dan pos 5 ini banyak sekali kami menemukan onggokan kotoran sapi.

“emang ada sapi bang yang naik untuk membawa kayu gelondongan,” jawab Lim menjawab keheranan saya.

“wah ada illegal logging dong ya” tukas saya.

“begitulah bang, penduduk setempat” jawab dia lagi.

Ya asalkan tidak sampai merusak hutan bawakaraeng, batin saya mejawab omongan Lim.

Pos 5 adalah sebuah puncak bukit yang cukup luas ditumbuhi oleh tanaman perdu dan pohon-pohon tumbang dan bekas terbakar, sumber air berada disebelah kiri kita saat memasuki areal pos ini, berjarak sekitar 200 meter turun kearah lembah, sebuah aliran sungai kecil yang jernih terdapat disana. Segar sekali rasanya membasuh muka dengan air gunung ini, muka yang telah basah dan kotor oleh keringat terasa segar kembali. Sekembalinya ke areal camp tampak Nhanha, Titi dan Dwi sudah sibuk dengan aktifitas masak-memasak untuk makan malam kami nanti, di ufuk barat matahari mulai perlahan tenggelam memberikan bias warna indah di langit, beberapa awan yang bergumpal menyepurnakan keindahan sore ini, di ufuk timur tampak rembulan yang kesorean berwarna putih pucat.

Detingan nesting (perlengkapan masak) menghiasi sore itu, sesekali saya menghirup nikmatnya teh manis panas, sore semakin jatuh dan perlahan gelap mulai merayapi Bawakaraeng, namun sinar purnama menggantikan mentari yang sudah tenggelam tidur, angin bertiup cukup kencang, suara binatang malam sesekali menghiasi suara obrolan kami. Menjelang Isya makanan kami sudah siap santap semua, dengan ditemani cahaya rembulan kami bersantap malam bersama dengan lahapnya, nikmat terasa berada diantara sahabat menikmati alam bebas.

p1010014Malam semakin larut, santap malam sudah selesai sedari tadi, ditenda saya tiga orang teman putri kami tengah asyik bergosip ria, Lim tanpak sudah berbaring di tenda Ego, hanya saya, Ego dan Anno masih nangkring duduk di pohon tumbang depan tenda Ego, namun itupun juga tak lama, sepeminum teh ya diseduh Ego, akhirnya kamipun menyerah pada kantuk yang sudah mulai menyerang. Bergelung dalam sleeping bag terasa nyaman sekali, sementara diluar angin semakin kencang berembus dan malampun semakin jatuh larut di pos 5 seiring dengan satu persatu dari kami mulai belayar dalam mimpi masing-masing.

Sinar matahari yang tembus kedalam tenda membuat saya mau tak mau keluar dari kepompong sleeping bag, Anno dan Titi sudah bangun dari tadi. Pagi yang cerah, hari kedua di Gunung Mulut Dewa demikian arti dari nama Gunung Bawakaraeng ini, ya kami sekarang sedang menuju Mulut Dewa. Gunung Bawakaraeng ini sudah dikenal oleh khalayak umum sebagai tempat naik haji bagi orang-orang yang mempercayainya. Menyimpang memang dari kepercayaan agama islam pada umumnya, menurut kepercayaan penduduk yang mempercayainya, naik Bawakaraeng dibulan haji sama dengan naik haji ke Mekkah. Tak pelak lagi pada musim tersebut banyak yang mendaki ke puncak Bawakaraeng untuk mengikuti ritual yang mereka percayai tersebut.

Pagi ini kami sarapan nasi goreng bersama, mudah-mudahan cuaca cerah pagi ini terus berlangsung selama pendakian kami. Jarum jam sudah menunjukan jam sembilan pagi saat kami memulai kembali perjalanan, target hari ini adalah pos 10 yang berada di daerah puncak. Teman-temanku semuanya melangkah dengan mantap menapaki jalan setapak pagi ini. Saya berjalan didepan dan diikuti oleh Ego, Cowok Makassar berdarah Jawa ini selintas jika melihat pembawaannya sehari-hari akan jauh sekali dari ciri orang Jawa mungkin karena dari lahir di tanah Daeng ini telah membuatnya menjadi orang Makassar, pria beristrikan perempuan asal Manado berputri satu orang ini ramai sekali orangnya, enak diajak bercanda. Dibelakang Ego ada Dwi cewek lajang yang selain gemar mendaki gunung ini juga gemar main sepeda gunung, dia gabung kami ke Makassar selain menggantikan teman yang tidak jadi ikut juga berencana sepulang dari Bawakaraeng dia akan survey untuk event sepeda komunitas mountain bikenya. Dibelakangnya ada Nhanha, yang akrap dipanggil dengan sebutan Tante Nhanha, dedengkot komunitas milis Jejak Petualang ini lah yang punya ide mengajak saya mendaki gunung di Sulawesi. Dibelakang Nhanha menyusul Titi, yang akrap dengan sebutan Miss Ungu ini memang pecinta warna ungu, selain gemar mendaki gunung seperti halnya Dwi, dia juga gemar sepeda gunung,

“dah setahun ngga naik gunung nih bang, jadi jalannya pelan-pelan yak” ujarnya dia sambil mengeluarkan serigai khasnya.

“ah elo kan biasa sepedaan, pasti endurance nya bagus lah” jawab saya

“iya sih, tapi beda bang sepeda sama naik gunung” jawab dia lagi.

Memang sudah setahun menurut pengakuan Titi dia tidak naik gunung, dan saya terakhir bareng naik gunung sama dia ke Gunung Dempo di Palembang.

Dibelakang Titi ada Ano, cowok imut lajang ini juga menggantikan seorang teman yang tidak jadi ikut, saya mengenal Ano sewaktu dia ikut menjadi peserta di event Sekolah Gunung Highcamp ke 4 di Gunung Manglayang – Bandung, orangnya menarik, memiliki senyum khas. Sekilas melihatnya orang akan mengira dia pendiam tapi begitu angetnya datang kesan pendiam itu akan hilang. Dan yang paling dibelakang atau yang selalu menjadi sweeper dalam pendakian ini adalah Lim, pria Jawa yang lahir di Bone dan besar di Makassar ini sangat banyak membantu kami dalam persiapan pendakian ke Bawakaraeng, mulai dari transportasi hingga ke akomodasi. Dari buah pikiran pria ini lahirlah sebuah buku berjudul “Jelajah 5 Puncak Sulawesi” yang berisikan data jalur pendakian di lima gunung di Sulawesi.

Kabut menutupi daerah terbuka di puncak Pos 7 ini, sedari tadi kami berjalan, melewati bebeberapa pos pendakian, dengan berbagai karakteristik medan pendakian. Selepas Pos 5 tempat kami menginap tadi, keadaan jalur pendakiannya terbuka dipenuhi oleh tanaman perdu dan pohon tumbang bekas kebakaran, rupanya daerah ini pernah terbakar mungkin, dipinggir jalan setapak banyak sekali dijumpai buah arbey hutan, matahari bersinar terik sesekali kabut datang mengunjungi kami bahkan sedikit gerimis menyambut kami tak kala kami sampai di atas sebuah bukit yang tidak jauh dari lokasi Pos 6, namun kemudian kembali terik metari menemani kami. Selepas Pos 6 jalur setapaknya memasuki hutan yang pohon dan batu-batu jalan setapaknya ditumbuhi lumut, jalurnya menanjak cukup curam dan licin. Hawa sejuk segera terasa saat memasuki jalur pendakian etape hutan lumut ini, pohonnya tidak begitu tinggi berupa tumbuhan khas daerah ketinggian. Akhir dari jalur hutan lumut ini kemudian terbuka dan sampailah di Pos 7, yang merupakan puncak sebuah bukit dan berbatu-batu.

“Nemu pisang dimana kau Lim” tanya saya saat melihat Lim yang tengah mengunyah pisang dengan nikmat sambil nyengir-nyengir.

“itu bang aku ambil disesajen disana” jawabnya masih sambil mengunyang pisang.

Benar saja saat saya melihat kearah yang ditunjukan Lim ada seonggok pisang, lengkap dengan beras dan kelapa serta abu bekas pembakaran kemenyan, iseng aku mencomot satu pisang dan memakannya. Tiba-tiba saya mendengar suara ayam, semula saya kita ayam hutan tidak tahunya ayam putih jago yang merupakan bagian dari sesajen, tampak ayamnya bersembunyi dibawah pohon diam, tidak bergerak.

“wah Lim kita bawa saja ke puncak nih bikin ayam panggang, hehehehehe” kelakar aku pada Lim

“ayooo bang” jawab Lim dengan tertawa lebar

ya hanya kelakar kami berdua saja, lagi pula pasti akan repot membawa ayam hidup kepuncak, terlebih ayam yang diperuntukan untuk sesajen.

“ Wah bang ngga apa diambil juga, kalo ada anak-anak lain yang naik pasti diambil sama mereka” ujar Lim saat saya mengatakan tidak baik mengutip isi sebuah sesajen.

Sementara teman-teman saya yang lain tengah asyik berfoto narsis ria dipuncak batu yang ada di pos 7 ini.

 

Matahari sudah bergulir ke arah barat saat kami kembali melanjutkan perjalanan, jalan setapak kali ini turun kearah kiri lembah. Dulu sewaktu sebelum lonsor kita akan melewati sebuah padang rumput yang indah setelah pos 7, namun longsor besar tersebut telah melenyapkan salah satu kecantikan gunung ini sebagai gantinya jalan setapak sekarang melipir kearah kiri gigiran punggungan, turun terus hingga ke dasar lembah yang dipotong oleh sebuah kali mati. Dan kemudian kembali menanjak melipiri punggungan dan setelah cukup lama berjalan akhirnya jalan setapak membimbing kita sampai di pos 8. Meskipun sinar matahari sudah tidak segarang tadi tapi sedikit teriknya masih terasa. Pos yang berada di undakan punggungan ini memiliki beberapa lokasi camp yang tidak begitu luas, disebelah kiri ada sebuah aliran sungai yang berdasarkan batu karang dan beberapa lubang yang digenangi oleh air membentuk telaga-telaga kecil, lokasi ini dikenal dengan sebutan Telaga Bidadari., kami beristirahat makan siang disini.

“ada yang mau roti ngga?” tawar Titi

“ya mau dong” jawab saya cepat.

Tak lama kemudian roti isi berlapis selai, keju,mentega dan meses sudah mengisi perut kami, lokasi telaga bidadari ini tidak terlalu istimewa hanya namanya saja yang sedikit mentereng dan hal ini pun sempat membuat Nhanha terkecoh.

“mana telaganya??” tanya Nhanha dengan antusia saat kami sampai dilokasi ini tadi

“ya itu” jawab Lim sambil menunjuk lubang-lubah kecil berdiameter satu meter berisi genangan air tersebut.

“wahhh. Kirain telaga gede..” sahut Nhanha lagi dengan rasa kecewa, saya sendiri juga sedikit kecewa karena padang rumput yang dulu indah sudah tak ada karena sudah terbawa longsor bukit pada tahun 2003.

Selepas jam 12 siang kembali kami melanjutkan perjalanan, jalurnya menanjak kembali terus hingga pos 9 dan kemudian menapaki daerah terbuka yang di beberapa tempat terdapat bunga edelweiss yang kuncupnya sedikit kurus, berbeda dengan bunga edelweiss yang ada di jawa, lebih besar kuncupnya.

Matahari kadang tertutup kabut dan kadang terik bersinar membuat keringat kembali bercucuran, perlahan saya terus menapaki tanjakan ini yang menutun kami menuju Pos 10 yang merupakan pos terakhir untuk daerah puncak. Dia akhir etape ini, jalan setapak kembali mengarahkan kami memasuki hutan yang rindang, yang dipenuhi oleh pohon-pohon, namun layaknya pepohonan yang berada di ketinggian tampak tumbuh tidak tinggi. Udara sejuk kembali menyergap saat memasuki hutan yang rindang ini, bersamaan saat itu kembali kabut menyelimuti daerah ini.

Tidak lama kemudian setelah melewati beberapa tanjakan akhirnya kami sampai di Pos 10.

“Mana pos nya bang?” tanya Titi yang ada dibelakangku

“itu dibawah” ujarku sambil menunjuk kearah arah bawa tempat dimana aku berdiri.

Sebuah dataran yang berada dibawah rindang pohon, terlindung memang tapi akan menjadi penghalang menikmati bulan purnama dan pemandangan sunset pasti pikir aku.

“ayo lanjut lagi” ujar ku pada ketiga teman putriku ini yang terduduk kecapean

“disini aja bang ngecampnya” ujar Nhanha

“jangan jelek disini, gue lihat dulu ke atas sana, lebih enakan disana.” Ujar saya sambil terus naik keatas.

Semula berencana ngecamp di puncak, karena Lim ingin punya foto seperti foto saya di puncak Loser yang tengah duduk di tiang trianggulasi dan ada tenda disampingnya. Tapi untuk kondisi Bawakaraeng seingat saya tidak cukup untuk mendirikan tenda dipuncaknya.

Saat sampai di dekat sumber air, didaerah pelataran yang dikenal dengan sebutan Tiang Bendera tampak Edo sudah menarok ranselnya dan tengah duduk, dari sini tiang trianggulasi puncak jelas terlihat.

“oiiii ayo naik kesini, disini bagus lho…..!!!” teriak saya ke arah pos 10 dibawah dimana teman-teman lainnya masih istirahat,

“air gimana Do?” tanya saya sama edo yang berjalan ke arah aku setelah mengecek kondisi sumber air yang berupa lubang besar berisi genangan air.

“Ada bang, bagus kok” jawabnya,

“eh cek kondisi puncak yok, sapa tau bisa ngecamp disana” ajak saya

“yuk” jawab Edo.

img-0804Perjalanan ke puncak dari tempat kami berada tidak jauh lagi, berjarak kurang dari 100 meter, hanya 5 menit berjalan akhirnya kami berdua sampai dipuncak, indah sekali pemandangan sore di puncak Mulut Dewa ini. Saya melemparkan pandangan ke arah utara tampak jejeran tebing punggungan lain dari Bawakaraeng, salah satunya jalur lintas ke Gunung Lompobatang. Sebelah selatan tampak jejeran dataran tinggi Sulawesi Selatan. Diarah bawah sana tampak teman-teman sudah berdatangan sampai di lokasi sumber air dimana kami akan ngecamp nanti, dan tampak Titi dan Dwi serta Nhanha bergegas menyusul kami ke puncak, sementara Lim dan Ano dibawah tampak bongkar-bongakar ransel mereka. Kembali saya edarkan padangan kearah gumpalan-gumpalan awan yang berada dibawah sana.

“Negeri atas awan” gumamku sendiri

dan kembali untuk kesekian kalinya saya mengarahkan camera untuk mengabadikan pemandangan indah ini, pemandangan yang tidak pernah dinikmati oleh orang yang bukan pendaki gunung.

“Hanya orang-orang atas awan saja yang bisa menikmati ini” ujar salah seorang seniorku dulu sewaktu kami naik gunung bersama dan saat itu terpaku menikmati pemandangan seperti yang tengah aku nimati sekarang. Ya, orang-orang atas awan begitu dia menyebut para pendaki gunung, yang selalu rindu berdiri menikmati keindahan alam dengan awan berada dibawah kakinya.

Saya tersadar dari keterdiaman sesaat tadi saat teman-teman yang lain sampai di puncak dan mulailah sesi heboh yaitu acara foto-foto narsis, seakan tak puas-puas kami berfoto disetiap sudut puncak gunung ini. Sementara itu senja kian terus bergulir, dan perlahan langit di ufuk barat mulai berwarna kekuningan. Kami harus segera turun ke Tiang bendera dan segera mendirikan tenda, angin terasa cukup kencang. Tiang bendara ini berupa sebuah dataran berumput yang cukup luas dan di kelilingi dan tedapat sebuah lubang sumber air minum.

Satu persatu tenda didirikan dan memang angin terasa cukup kencang, kami membangun dapur dengan lembar flysheet untuk mengurangi hebusan angin nantinya saat kami memasak. Dari lokasi camp kami bisa bebas memandang indahnya pemandangan matahari tenggelam di ufuk barat, dan lambat laun gelapun mulai menyelimuti kawasan puncak Bawakaraeng, namun sinar pedar rembulan membuat malam tidaklah begitu gelap, sebuah perjalanan yang benar-benar dikaruniai cuaca yang bagus, ini adalah malam kedua kami di gunung Bawakaraeng dan purnama selalu menemani kami meskipun angin bertiup cukup kencang, tapi malam ini indah sekali rembulan bersinar penuh dengan gemerlap bintang yang bertaburan dilangit.

Kulepas kau rembulanku
dalam dingin kabut
digemuruh badai dan derasnya hujan.
Kulepas kau rembulanku
saat pagi menjelang
dan cahaya pedar yang tertutup kabutpun
memudar berganti silau mentari pagi.

 

Sebait puisi yang selalu teringat oleh saya saat purnama di puncak gunung, sebuah puisi lama yang pernah saya temukan di secarik kertas di pondok rumah panggung Pos Kandang Badak di gunung Gede-Pangrango dulu sewaktu tahun delapan puluhan. Tapi malam kali ini rembulannya hanya bertemankan angin dan tidak ada hujan, namun angin dingin itu mampu membuat teman-teman yang lain betah berada didalam tenda, hanya saya dan Titi yang diluar memasak untuk makan malam kami.

Rencananya besok pagi hari kami kembali untuk berfoto bersama di puncak dengan harapan kabut dan mega yang memayungi beberapa bagian dari puncak Bawakaraeng ini menghilang dan kami bisa menikmati pemandangan yang utuh dari puncak Mulut Dewa ini. Seusai santap malam kamipun berlayar dalam mimpi masing-masing dan ternyata diluar diantara deru angin sesuatu yang tidak bisa dijabarkan dengan ilmu matematika mendatangi kami, namun tidak mengganggu mungkin hanya sekedar ingin tahu.

Sinar Matahari pagi menerobos dinding tenda, saya terbangun tapi masih belum bergerak keluar dari sleeping bag, suara kepakan flysheet dapur kami masih jelas terdengar, agaknya angin masih tetap kencang bertiup.

“oiii dah bangun belum..??” teriak saya dari dalam tenda

ada dua suara sahutan sepertinya mereka juga masih didalam tenda, malas mungkin keluar dari kepompongnya.

Hari ini selesai foto bareng di puncak kami akan segera turun kembali ke Makassar, namun rute turun kami kali ini adalah melewati Desa Lembana.

“eh semalam dengar langkah kaki tidak di sekeliling tenda” tanya Ego saat kami semua tengah santap pagi.

Rupanya benar yang saya dengar semalam adalah langkah kaki, seperti langkah yang mengitari tenda. Semalam saya sempat berpikir ada pendakia lain yang naik.

“aku jelas bener bang denger semalam”ujar Ego dengan logat Makassarnya

“iya saya juga denger” sahut saya pelan.

“aku dua kali denger bang, kali kedua aku sempat duduk bang, tapi kemudian hilang lagi” lanjut Ego.

Yah tak heran Gunung Bawakaraeng dijuluki gunung terangker di Sulawesi Selatan, rupanya bukan hanya sekedar julukan.

Saya tidak mau membahas hal metafisik tersebut, dan obrolan itu pun akhirnya selesai ditelan kesibukan kami menyiapkan sarapan pagi dan packing kembali seluruh peralatan. Kami harus sampai di Lembana sore ini agar bisa terkejar kembali ke Makassar malamnya, dan setelah foto bersama plus foto narsis part dua di puncak kami pun turun menuju Desa Lembana.

Sempat di tengah jalan kami bertemu dengan beberapa pendaki lain, yang mendaki gunung ini, setelah dari kemaren tidak berjumpa siapapun di gunung ini.

“dari mana?” tanya mereka ramah saat kami berpapasan dengan mereka

dan sejenak kami ngobrol, Lim dan Ego berbincang akrap dengan mereka, tampaknya mereka saling mengenal. Di pos 5 sempat kami istirahat sejenak dan mengobrol dengan satu grup pendaki yang berasal dari Makkassar.

Sejam kemudian kami kembali menapaki jalur setapak yang menuntun kami ke arah Desa Lembana.

“untung kita ngga naik dari sini kemaren” ujar Nhanha

Ya memang rute Lembana panjang sekali, dari pos 5 kami harus melewati empat pos lagi dan jarak setiap pos nya cukup jauh, terutama sekali jalur dari pos 2 ke pos 1,

“ngga kebayang deh BT nya kalo naik dari sini, pasti nyape pos 5 dan malam kali” lanjut Nhanha lagi.

Memang Titi dan Nhanha tak henti-hentinya menanyakan apakah masih jauh atau tidak, kepada Ego dan Lim. Memang rute terakhir dari pos 2 ke pos 1 terasa panjang sekali, pohon pinus sebagai pertanda sudah sampai di Lembana terasa tidak sampai-sampai. Jalur nya nyaris tertutup semak-semak. Cukup membosankan melewati etape ini,

“turun aja bosen gini, gimana naik ya” gerutu Titi disela-sela langkah kakinya.

Jelang magrib akhirnya saya, Titi dan Ego sampai di hutan pinus yang tidak begitu luas, dari sini atap-atap rumah di desa Lembana sudah terlihat, kami bertiga beristirahat sebentar menunggu Nhanha, Lim, Dwi dan Ano yang masih dibelakang, Tidak lama juga menunggu mereka muncul dengan celotehan ramai dan komentar-komentar tentang jalur etape dari pos 2 yang membosankan tersebut.

Setelah melewati perladangan penduduk dan tepat saat azan magrib akhirnya kami memeasuki Desa Lembana, dari sini masih berjarak cukup jauh ke tempat kendaraan kami menunggu. Untuk berjalan lagi kesana cukup memakan waktu, akhirnya dengan menumpang truk pengangkut wortel kami sampai juga di tempat kendaraan kami menunggu, tanpa membuang waktu lagi kami segera tancap kembali ke Makassar, rencananya kami akan menginap di Losari dan besok mengunjungi Maros tepatnya air terun Bantimurung.

Rembulan bersinar dan tampak besar sekali saat kami meninggalkan Malino, sosok Bawakaraeng perlahan semakin jauh tertinggal dibelakang, saya terdiam mencoba membayangkan kembali saat-saat Purnama di Mulut Dewa adalah saat-saat yang menyenangkan berada diantara sahabat dan alam.